Kamis, 11 Desember 2025

Harga RAM Naik, Smartphone 2026 Terancam Ikut Melonjak?! Kenapa Bisa Terjadi dan Kapan Waktu Terbaik untuk Beli Smartphone Baru?

 

Harga RAM Terus Naik
Harga RAM Terus Naik

    Harga smartphone sepanjang tahun 2026 diprediksi akan mengalami kenaikan di hampir semua lini dan brand. Kabar ini muncul bersamaan dengan maraknya pemberitaan mengenai kenaikan harga RAM untuk komponen PC dalam beberapa bulan terakhir. Banyak pengguna yang kemudian salah paham dan menganggap bahwa kebutuhan AI membuat “RAM konsumen habis dipakai”, atau menuding bahwa kenaikan ini hanyalah akal-akalan produsen untuk menaikkan keuntungan. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu. RAM yang dipakai untuk kebutuhan AI dan data center berbeda dengan RAM yang digunakan konsumen. Lalu, kenapa harga RAM konsumen tetap naik meskipun teknologinya berbeda? 

    Jawabannya karena para produsen chip kini mengalihkan fokus produksi dari pasar Business-to-Consumer (B2C) ke Business-to-Business (B2B). Permintaan memori untuk perusahaan AI, cloud computing, dan data center meningkat begitu drastis hingga produsen besar seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron — tiga penguasa utama produksi chip memori global memilih memprioritaskan wafer mereka untuk kebutuhan korporasi tersebut. Akibatnya, produksi chip memori untuk konsumen diturunkan, dan ketika supply menurun sementara demand tetap, harga pun otomatis naik.

    Efeknya sudah terlihat jelas pada pasar PC rakitan. Harga RAM melonjak 2–3 kali lipat hanya dalam waktu dua bulan. Bahkan Micron memutuskan untuk menghentikan brand Crucial, RAM yang dikenal luas di PC rakitan dan laptop. Langkah ini diambil karena mereka ingin mengalihkan hampir seluruh kapasitas produksi untuk sektor AI dan data center. Situasi ini memperjelas bahwa imbas kenaikan harga tidak berhenti di RAM saja. Karena yang diproduksi adalah chip memori, maka berbagai komponen lain seperti SSD hingga graphic card juga diprediksi akan mengalami kenaikan sepanjang 2026.

    Dampak yang lebih besar lagi akan terasa di pasar perangkat elektronik massal seperti smartphone, tablet, laptop, mini PC, hingga konsol. Di industri smartphone, tanda-tanda kenaikan harga sebenarnya sudah terlihat sejak akhir 2025. Contohnya, iQOO 15 mengalami kenaikan harga sebesar 3 juta rupiah untuk varian terendahnya, sedangkan Vivo X300 naik sekitar 2 juta rupiah dibanding generasi sebelumnya.

Saran dari Head of Product Marketing Realme Global
Saran dari Head of Product Marketing Realme Global

    Apakah kenaikan ini hanya karena harga RAM? Sayangnya, tidak. Kalau melihat perkembangan teknologi dan tren SoC dalam dua tahun terakhir, persaingan antara Qualcomm dan Mediatek untuk menghadirkan chip yang lebih kencang, lebih efisien, dan lebih AI-centric membuat harga produksi semakin tinggi. Pabrik manufaktur seperti TSMC dan Samsung Foundry juga menaikkan biaya produksi karena proses fabrikasi terbaru semakin kompleks. Kombinasi antara naiknya harga RAM, storage, dan SoC inilah yang membuat banyak analis memprediksi bahwa hampir semua smartphone akan dibanderol lebih mahal pada 2026.

    Kekhawatiran ini makin terasa ketika rumor menyebutkan bahwa brand besar seperti Xiaomi mulai mempertimbangkan strategi kenaikan harga untuk seri-seri yang akan rilis tahun depan. Bahkan, Head of Product Marketing @realmeglobal sempat menulis di akun X milinya, 

“Trust me. Whatever phone u picked, regardless of the brand, buy it now. Being in the smartphone industry for a decade, I’ve never seen any price hike like this time. The price of every smartphone from every brand will just go up. Some small brands will have no phone to sell soon.” 

    Pernyataan tersebut menggambarkan betapa seriusnya kondisi industri sekarang, hingga beberapa brand kecil diprediksi tidak akan mampu memproduksi smartphone lagi karena biaya komponennya terlalu tinggi.

Pertimbangan Menghadirkan Kembali Slot MicroSD
Pertimbangan Menghadirkan Kembali Slot MicroSD

    Situasi ini membuat banyak produsen smartphone harus menetapkan keputusan sulit, apakah mereka akan menurunkan spesifikasi — terutama RAM dan storage — untuk menjaga harga tetap terjangkau, atau menaikkan harga smartphone agar tetap dapat memakai komponen terbaik? Bahkan muncul kemungkinan ketiga: harga naik, spesifikasi tetap turun, karena kenaikan biaya bukan hanya terjadi pada RAM tetapi juga SoC, modul kamera, hingga penyimpanan. Beberapa produsen bahkan mempertimbangkan untuk menghadirkan kembali slot microSD demi mengurangi tekanan biaya dari storage internal UFS yang harganya ikut melonjak. Namun tentu saja, meski microSD tercepat sekalipun masih belum bisa menandingi kecepatan penyimpanan internal flagship.

    Dengan situasi yang cukup kompleks ini, muncul pertanyaan yang paling banyak ditanyakan pengguna: “Kapan waktu terbaik untuk beli smartphone baru? Apakah sekarang atau tunggu sampai harga stabil?” Melihat kondisi saat ini, jawabannya: jika smartphone yang kalian pakai sekarang sudah tidak mencukupi untuk kebutuhan 2–4 tahun ke depan, maka waktu terbaik untuk upgrade adalah sekarang. Tidak ada kepastian kapan harga akan stabil. Bahkan analis yang sebelumnya memprediksi stabilisasi di Q4 2026 kini mulai meninjau ulang prediksinya karena permintaan AI yang terus meningkat. Ada kemungkinan harga baru akan stabil pada 2027 atau bahkan 2028.

    Jika smartphone kalian saat ini sudah berusia 3–4 tahun dan mulai terasa tidak nyaman lagi dipakai, maka 2025 sampai awal 2026 adalah waktu paling aman untuk upgrade, sebelum harga naik dan spesifikasi yang ditawarkan brand-brand smartphone turun dengan harga yang lebih tinggi. Situasi supply chain memori, SoC, dan komponen lain menunjukkan bahwa pasar smartphone berada dalam masa transisi besar yang belum tentu cepat pulih.

Sumber :

  • Gambar : © alikgriffin.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Motorola Edge 70 Fusion Resmi di Indonesia! Smartphone Mid-Range Baru dengan Baterai Jumbo!

  Motorola Edge 70 Fusion      Motorola Indonesia tidak hanya meluncurkan seri flagship terbaru mereka, tetapi juga turut menghadirkan smart...